Potensial Budidaya Si Jelawat dari Pulau Borneo

Potensial Budidaya Si Jelawat dari Pulau Borneo


Ikan Jelawat (Leptobarbus hoevani) merupakan salah satu jenis ikan air tawar endemic Indonesia yang hidup di beberapa sungai di Kalimantan dan Sumatera. Kelebihan dari ikan ini yaitu sanggup menyesuaikan diri dengan iklim tempat hidupnya, dapat dipelihara di tempat terbatas dengan padat penebaran yang tinggi dan tahan penyakit (Soesono, 1983), akan tetapi ikan ini juga mempunyai kekurangan yang salah satunya yaitu pertumbuhan yang lambat. 




         Permintaan pasar terhadap ikan ini cukup tinggi dan mempunyai nilai ekonomis tinggi karena sangat digemari oleh masyarakat dan di beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Karen RASANYA YAG LEZAT, SEHINGGA MERUPAKAN KOMODITAS YANG SANGAT potensial dan mendorong minat masyarakat untuk mengembangkannya (Dinas Kelautan dan Perikanan, 2004)

        Seiring dengan perkembangan budidaya ikan tawar, budidaya ikan jelawat juga mengalami perkembangan, baik pada pembenihan maupun pada pembesarannya, namun pembesaran ikan jelawat berjalan lambat. Hal ini dapat dilihat pada produksinya pada tahun 2009 yang hanya mencapai 966,27 ton dibndingkan dengan jenis ikan konsumsi lainnya (Dinas Kelautan dan Perikanan, 2009). Selain karena ukuran ikan jelawat yang relative besar untuk dijadikan konsumsi, lambatnya perkembangan budidaya pembesaran ikan ini juga dikarenakan budidayanya belum dilakukan secara intensif. Para Petani melakukan pemeliharaan ikan jelawat ini secara sederhana (ektensif), yaitu hanya memberikan pakan tambahan berupa daun singkong, biji karet, biji tengkawang, bungkil kelapa, dan sisa-sisa makanan dalam jumlah terbatas pemeliharaannya (Suhenda et al., 1997).


         Untuk mendukung perkembangan budidaya ikan jelawat pada tingkat teknologi intensif dan pada skala komersial, pemberian pakan tambahan tidak lagi dapat mendukung pertumbuhan dan produksi pakan yang optimal. Untuk itu, pemberian pakan buatan harus dilakukan menghasilkan laju pertumbuhan yang tinggi. Akan tetapi, dalam penyusunan formulasi pakan buatan penmbahan tepung ikan sering ditambahkan sebagai sumber bahan protein yang penting untuk pertumbuhan ikan. Akan tetepii, di sisi lain penggunaan tepung ikan sebagai bahan pakan ternak dan ikan disarankan untuk dikurangi (Food and Agriculture Organization, 1997) Hal ini disebabkan oleh semakin berkurangnya sumber daya ikan dan semakin tingginya kebutuhan manusia akan protein dari ikan. Oleh karena itu, penggantian tepung ikan dengan bahan-bahan lain yang mengandung protein tinggi perlu dilakukan.

            Nilai ekonomi yang tinggi dari tepung ikan dikarenakan tepung ikan menyediakan nutrisi yang mudah dicerna oleh hewan ternak. Namun, Pengguanaan tepung ikan berlawanan dengan kebijakan penggunaan sumber akuatik yang berharga dan terbatas sebagai bahan pakan hewan. Karena itu penting untuk menemukan sumber protein alternative untuk mengurangi penggunaan tepung ikan dalam pakan ikan dengann harga yang murah serta perolehannya rrelatif mudah.

         Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai pengganti tepung ikan adalah tepung keong mas. Menurut (bamboo-Tuburan et al,. 1995 dalam Kamaruddin et l., 2005) bahwa keong mas (Pamacea sp.) merupakan salah satu sumber protein yang baik bagi ikan, karena dagingnyamempunyai kadar protein 54% bobot kering. Sampai saat ini, keong mas masih dirasakan sebagai hama yang merusak batang padi bagi para petani dan masih banyak di jumpai di areal pesawahan.

         Beberapa hasil penelitaian tentang sumber bahan protein alternative pengganti tepung ikan menggunkan tepung keong mas yaitu sbagai berikut, pada penggantian kandungan tepung ikan menjadi tepung keong mas sebanyak 25-75% memberikan pengaruh cukup baik terhadap laju pertumbuhan harian individu,efisien pakan ,retensi protein dan retensi lemak (Sulistiono, 2008)

      Percobaan yang dilakukan pada ikan mas (Cyprinus carpio yang diberi pakan campuran 75% tepung ikan dengan 25% tepung keong mas sebagai sumber bahan protein hewaninya dapat memberikan laju pertumbuhan yang sama dan bahkan lebih baik dibandingkan dengan pakan menggunakan 100% tepung ikan (Kamaruddin et al, 2005). Pada percobaan lain yaitu komposisi 50% tepung ikan dan 50% keong mas memberikan pertumbuhan yang cukup baik, dengan nilai konversi pakan yang rendah pada budidaya ikan nila (orochromis niloticus) (Sulistiono, 2008). Berdasarkan informasi tersebut diatas , keong emas sangat prospektif untuk digunakan sebagai sumber protein pakan untuk pengganti tepung ikan dan ikan jelawat dapat di budidayakan secara cepat untuk (Kurniawan Defi, 2011)

          Dengan hadirnya CPPrima dapat membantu menginovasikan pakan yang berkualitas dan bagus bagi ikan jelawat sehingga dapat meningkatkan budidaya ikan di Indonesia.

Komentar