SALAH NIAT

        Sanggau, Februari 2016. Aku terdiam membisu menatap jalan aspal yang licin dan lurus begitu mulus. Pandangan yang membuatku leluasa dibelakang kaca mobil yang sangat besar. Sempat mataku melihat tulisan besar "FAJAR" dibagian kaca atas bus, dan pandanganku berlari kebawah kaca bus yang bertuliskan "Entikong - Pontianak". Aku duduk sendiri dikursi bagian depan bus ini. Kursi hitam yang agak tebal dan empuk lebih sedikit leluasa bisa membuatku bisa berbaring diatasnya. Tidak ada yang menemaniku saat itu, hanya ransel tas hitam yang aku simpan di atas kursi disampingku. Jika aku tertidur ransel itu yang mungkin akan berubah fungsi menjadi bantal. bentuk ransel yang menggelembung membuat aku nyaman memeluknya seperti guling yang aku pakai ketika tidur.

       Dibelakangku terdengar riuh kawan - kawan yang lain saling bersahutan. Sesakali aku mengajak kawan dibelakangku untuk mengobrol. Dan itupunaku sendiri yang memulai mengajak mengobrol dengan membuka lebih awal tema pembahasan. Rasanya asing, aku bagaikan orang yang tak pernah mereka kenal padahal beberapa hari aku bersama mereka dalam satu kegiatan.

       Mungkin mereka melihat bahwa aku orang yang pendiam dan tak banyak bicara dalam sosialisasi. Memang benar sih, terkadang aku lebih banyak memilih diam. Diam bagiku tak banyak masalah, tetapi terkadang diamku malah menjadi masalah. Akupun tak tau kenapa. Tapi sedih rasanya, jika saja mereka mengajakku berbicara akupun tidak akan selamanya diam.

     Sore itu aku terus merenung, rasa-rasanya tidak ada yang memperdulikanku. Aku terus menatap jalan yang delewati mobil. aku tau sebelum kegiatan, ada masalah yang membuat aku jauh dari mereka. Memang aku yang salah, tetapi aku bingung menyelesaikannya. Aku terlalu panik untuk masalah yang sesederhana ini. Jika dilihat dari perbuatanku, aku hanya ingin membantu mereka. Namun mungkin niatku salah saat membantu mereka. Ada secercah harapan yang ingin dibalas dari perbuatanku.
        
       
        Mungkin ini cara tuhan untuk menegurku. Aku merasa bukan mereka yang salah, tetapi terkadang aku bertanya mengapa mereka membiarkanku untuk berdiam diri tanpa mereka mengajakku untuk berdiskusi. Pikiran itu mengahntuiku sepanjang jalan, sedih rasanya ketika aku harus sendiri menjalani masalah ini. Aku harus sering banyak belajar menyelesaikan masalah. Tapi terkadang mulut ini membisu dan bertentangan dengan hati. 

      Mobil masih saja berjalan pada kecepatan 80km/jam dan malam semakin datang hingga aku tertidur dengan tas ransel hitamku menjadi sandaran kepalaku.

#lanhitstory #metamorfosis24

Komentar